Eng ing eng ~ kali ini kita akan berbagi cerita mengenai makanan khas dari dusun Wonolelo yaitu Slondok. Mungkin bagi penggemar makanan tradisional slondok sudah bukan merupakan makanan asing lagi karena dapat ditemukan di pelosok-pelosok toko di perkotaan maupun di pasaran. Di desa kenalan ini mayoritas penduduknya rata-rata memproduksi slondok tiap hari dimana yang membedakan antar dusun hanya jenis dari slondoknya. Di dusun mawung dan klanten makanan olahan dari tela ini kebanyakaan adalah krepus tapi tidak sedikit juga yang memproduksi seperti gambar di atas. Gambar di atas di ambil di dusun Wonolelo tempat kita berada yang notabene baru masuk dalam tahap penjemuran sebelum digoreng. Slondok di Wonolelo sendiri semua bentuknya sama dimana telo diolah dulu menjadi gethuk dan kemudian digiling sehingga menjadi seperti bakmi kemudian dibentuk cincin bulat. Dari seluruh KK yang ada di dusun wonolelo hampir 90 persen memproduksi slondok dimana beberapa KK hanya memproduksi saat panen telo dan beberapa KK memproduksi setiap hari dengan membeli telo di pasar.
Slondok di Wonolelo tersedia dalam rasa original yang belum di beri bumbu apa-apa masih asli dari asalnya. Bagaimana rasanya ? Pasti renyah dan lezat dongg ~ Sekali lahap rasanya lidah ini tidak ingin berhenti untuk mengunyahnya. Untuk kualitas slondok di wonolelo sendiri saya jamin sangat mantap ! mengapa ? slondok Wonolelo ini produksi rumahan dan di tangani langsung oleh si ibu atau bapak empunya rumah. Yaa mungkin agak susahnya itu slondok antar rumah rasanya berbeda , tapi walaupun berbeda pun tetap enak di lidah serius deh . Karena produksi tiap rumah dan langsung di tangani "bos"nya pasti pembuatannya telaten dan dengan perasaan sehingga slondok yang dihasilkan renyah. Kalau misal mau di tandingkan slondok wonolelo dengan slondok tempat lain boleh lah mari di coba tidak takut :))
Untuk penjualannya sendiri slondok di wonolelo sejauh ini sudah mencapai sleman, borobudur, kulonprogo dan lain-lain. Hanya satu yang kami sesalkan adalah enaknya slondok yang dihasilkan warga wonolelo tidak memberikan efek yang begitu enak juga ke produsennya. Sistem penjualan yang dilakukan warga wonolelo hanya lewat perantara dan karena satu dan dua hal produsen yakni warga wonolelo bisa tidak merasakan untung sama sekali dari kerja bikin slondok. Masalah yang membatasi warga wonolelo mungkin adalah pemasaran yang terhambat. Keseharian masyarakat wonolelo yang bercocok tanam dan berladang sembari memberi pakan ternak membuat sedikitnya waktu bagi warga wonolelo untuk dapat memasarkan slondok mereka. Padahal bila saja ada pengusaha yang ingin memulai bisnis slondok dengan setoran pasokan dari Wonolelo pastinya , untung yang dihasilkan cukup lumayan besar. Dengan hitung-hitungan harga beli slondok ke produsen di Wonolelo , si pendistributor sudah mendapat untung yang lumayan besar melihat pasar slondok di kota cukup lumayan besar. Misalkan saja harga beli slondok di Wonolelo 13 - 15 rb 1 kg , di jual 1 kg di kota dapat 20 rb, untung sekitar 3 - 4 rb dimana tambahan biaya lain-lain. apabila dalam satu minggu ada 1 kuintal maka 1 minggu anggap saja bisa dapat 400 rb. Bisnis slondok ini bisa cukup menjanjikan apalagi slondoknya dari Wonolelo. Bagaimana pembaca ada yang berminat ?? Haha
Mungkin bila penasaran dengan rasa slondoknya bisa mampir kemari barang sebentar , warganya juga ramah-ramah lho jadi tidak usah takut atau sungkan untuk mampir kemari :D
Naah mungkin segitu dulu saja bincang-bincang soal slondok Wonolelo kali ini. Mungkin setelah pembaca ada yang berminat untuk memulai bisnis slondok bisa langsung ke Wonolelo dan berdiskusi dengan produsennya, dijamin Wuueenak dab !
Okee untuk tulisan-tulisan selanjutnya kami akan bercerita tentang kerukunan warga Wonolelo yang saat ini sudah langka dan mungkin anda akan terkesima setelah membacanya :))
Salam kasih,
Sub Unit 4 Wonolelo
