Kamis, 01 Agustus 2013

Omah SLONDOK .. Monggo mampir :)

Eng ing eng ~ kali ini kita akan berbagi cerita mengenai makanan khas dari dusun Wonolelo yaitu Slondok. Mungkin bagi penggemar makanan tradisional slondok sudah bukan merupakan makanan asing lagi karena dapat ditemukan di pelosok-pelosok toko di perkotaan maupun di pasaran. Di desa kenalan ini mayoritas penduduknya rata-rata memproduksi slondok tiap hari dimana yang membedakan antar dusun hanya jenis dari slondoknya. Di dusun mawung dan klanten makanan olahan dari tela ini kebanyakaan adalah krepus tapi tidak sedikit juga yang memproduksi seperti gambar di atas. Gambar di atas di ambil di dusun Wonolelo tempat kita berada yang notabene baru masuk dalam tahap penjemuran sebelum digoreng. Slondok di Wonolelo sendiri semua bentuknya sama dimana telo diolah dulu menjadi gethuk dan kemudian digiling sehingga menjadi seperti bakmi kemudian dibentuk cincin bulat. Dari seluruh KK yang ada di dusun wonolelo hampir 90 persen memproduksi slondok dimana beberapa KK hanya memproduksi saat panen telo dan beberapa KK memproduksi setiap hari dengan membeli telo di pasar.
Slondok di Wonolelo tersedia dalam rasa original yang belum di beri bumbu apa-apa masih asli dari asalnya. Bagaimana rasanya ? Pasti renyah dan lezat dongg ~ Sekali lahap rasanya lidah ini tidak ingin berhenti untuk mengunyahnya. Untuk kualitas slondok di wonolelo sendiri saya jamin sangat mantap ! mengapa ? slondok Wonolelo ini produksi rumahan dan di tangani langsung oleh si ibu atau bapak empunya rumah. Yaa mungkin agak susahnya itu slondok antar rumah rasanya berbeda , tapi walaupun berbeda pun tetap enak di lidah serius deh . Karena produksi tiap rumah dan langsung di tangani "bos"nya pasti pembuatannya telaten dan dengan perasaan sehingga slondok yang dihasilkan renyah. Kalau misal mau di tandingkan slondok wonolelo dengan slondok tempat lain boleh lah mari di coba tidak takut :))
Untuk penjualannya sendiri slondok di wonolelo sejauh ini sudah mencapai sleman, borobudur, kulonprogo dan lain-lain. Hanya satu yang kami sesalkan adalah enaknya slondok yang dihasilkan warga wonolelo tidak memberikan efek yang begitu enak juga ke produsennya. Sistem penjualan yang dilakukan warga wonolelo hanya lewat perantara dan karena satu dan dua hal produsen yakni warga wonolelo bisa tidak merasakan untung sama sekali dari kerja bikin slondok. Masalah yang membatasi warga wonolelo mungkin adalah pemasaran yang terhambat. Keseharian masyarakat wonolelo yang bercocok tanam dan berladang sembari memberi pakan ternak membuat sedikitnya waktu bagi warga wonolelo untuk dapat memasarkan slondok mereka. Padahal bila saja ada pengusaha yang ingin memulai bisnis slondok dengan setoran pasokan dari Wonolelo pastinya , untung yang dihasilkan cukup lumayan besar. Dengan hitung-hitungan harga beli slondok ke produsen di Wonolelo , si pendistributor sudah mendapat untung yang lumayan besar melihat pasar slondok di kota cukup lumayan besar. Misalkan saja harga beli slondok di Wonolelo 13 - 15 rb 1 kg , di jual 1 kg di kota dapat 20 rb, untung sekitar 3 - 4 rb dimana tambahan biaya lain-lain. apabila dalam satu minggu ada 1 kuintal maka 1 minggu anggap saja bisa dapat 400 rb.  Bisnis slondok ini bisa cukup menjanjikan apalagi slondoknya dari Wonolelo. Bagaimana pembaca ada yang berminat ?? Haha
Mungkin bila penasaran dengan rasa slondoknya bisa mampir kemari barang sebentar , warganya juga ramah-ramah lho jadi tidak usah takut atau sungkan untuk mampir kemari :D

Naah mungkin segitu dulu saja bincang-bincang soal slondok Wonolelo kali ini. Mungkin setelah pembaca ada yang berminat untuk memulai bisnis slondok bisa langsung ke Wonolelo dan berdiskusi dengan produsennya, dijamin Wuueenak dab !
Okee untuk tulisan-tulisan selanjutnya kami akan bercerita tentang kerukunan warga Wonolelo yang saat ini sudah langka dan mungkin anda akan terkesima setelah membacanya :))


Salam kasih,


Sub Unit 4 Wonolelo

Selasa, 30 Juli 2013

Omahku... Wonolelo Kenalan

Sudah sekitar satu bulan kami berenam berada di sini, tempat kami belajar ilmu-ilmu yang tidak akan pernah kami dapatkan di Sekolah manapun yakni Wonolelo yang akan selalu terkenang di hati. Dusun Wonolelo adalah salah satu Dusun yang berada di Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Bila dilihat dari topografi lokasinya sih dusun ini berada di tepat perbatasan antara Jawa Tengah ( Magelang) dan DIY ( Kulon Progo). Sebelum memasuki dusun ini akan ditemukan jalanan aspal membentang hingga obyek wisata Suroloyo yang notabene jalan aspal ini adalah tanda batas antara kabupaten KulonProgo dengan Magelang. Tulisan ini baru sempat ditulis sekarang karena satu dan dua hal koneksi internet "lumayan" baik sangat sulit didapatkan sehingga sempat tertunda untuk mempublish.
Di dusun ini sendiri terdiri dari enam orang mahasiswa UGM dari 2 kluster yaitu SainsTek dan SosHum. Keenam orang itu adalah Mahe, Rizal, Candra, Cheche, Rayi dan Aya. Kami menyebut diri kami adalah keluarga Cemarrra yang didasarkan untuk asik-asikan aja sebagai tanda kekeluargaan kami. Pada awalnya nama cemara kami ilhami dari kisah televisi keluarga cemara namun kami pelesetkan menjadi cemarrra yang merupakan singkatan dari nama-nama kami berenam.
Di satu desa Kenalan ini kami tim satu unit terdiri dari 24 orang dan dibagi ke dalam 4 sub unit yaitu di dusun Mawung, Klanten, dan Gempal. Di dusun Mawung terdapat teman kami fahmi, opik, ayu, dian, slamet, dan dhayu. Di dusun Gempal ada dimas, raras, fara, begjo, agnis, dan anggia. Sedangkan di dusun Klanten ada maul, alif, ojan, ridha, nana, dan ambar. Dibanding ketiga dusun tersebut, dusun kami terhitung paling jauh dari pusat desa yakni balai desa. Untuk sampai ke pusat desa kami harus lewat jalan memutar apabila naik motor namun jalan kaki bisa lebih cepat sampai hanya saja jalanannya sangat menantang.
Di dusun Wonolelo kami berenam tinggal di rumah pak RW 04 yaitu pak Edi Wahyono dengan bu Edi Wahyono. Bapak dan Ibu tinggal berdua karena putra-putrinya sudah menikah satunya bernama mas Andre tinggal bersama istrinya di Turi dan yang kedua mbak Yuli sudah menikah dan tinggal bersama suaminya mas Frans ( mas2 HiTech Wonolelo) juga di dusun Wonolelo. Bapak ibu sudah mempunyai 2 cucu yaitu Patrick dan Yufra. Kami lebih sering bertemu dan bermain bareng Yufra karena sering menginap dirumah bersama simbok (panggilan yufra ke simbah). Oh iya sebentar lagi bapak ibu mau nambah cucu ketiga lho hahaha
Nah itu sekilas cerita awal pertemuan kami dengan rumah kami, Dusun Wonolelo Kenalan. Kami akan tunjukan lagi cerita-cerita menarik lainnya yang mungkin kalian para pembaca tidak akan menyangka bahwa kerinduan dan kerukunan yang anda cari selama ini di kota dapat ditemukan di Dusun Wonolelo ini.



Salam Kasih,

Sub Unit 4 Wonolelo